Berbagi Informasi dan Berita Harga Beras

Blog ini dikelola oleh Pabrik Beras PADISONGO Sragen

Kebijakan Instan Rugikan Petani

01 Agustus 2011 | BP

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=32&id=54477

SUATU ironi, di saat musim panen belum usai, justru pemerintah mengimpor beras. Hal itu tentunya melukai hati para petani, karena mereka sudah bersusah payah menyediakan bahan pangan, namun mereka tidak bisa menikmati jerih payahnya, akibat salah kebijakan. Apa pun alasannya seharusnya pemerintah mengutamakan pembelian gabah atau beras petani ketimbang membeli atau mengimpor beras dari negara lain semisal Vietnam.

Lantas siapa sebenarnya yang akan dibela atau diproteksi oleh pemerintah, petani lokal atau petani Vietnam? Kalau kita lihat dari sepak terjang pemerintah dalam hal ini Badan Urusan Logistik (Bulog) yang telah setuju impor beras dari Vietnam 500.000 ton, menggambarkan bahwa kebijakan tersebut tidak pro-petani. Bahkan, kebijakan instan dengan mengimpor beras tersebut benar-benar merugikan petani dalam negeri.

Walaupun alasan impor beras tersebut untuk mengamankan meningkatkan permintaan, bukan berarti Bulog lebih mengutamakan mengimpor ketimbang membeli gabah petani.

Fenomena ini selalu berujung pada alasan klasik bahwa Bulog harus melakukan importasi guna mengamankan stok. Untuk mengamankan stok beras, seharusnya Bulog melakukan manajemen stok yang lebih baik, di sisi lain lebih kreatif menyerap gabah petani.

Bahkan, Bulog tidak perlu melakukan impor kalau mengacu pada data BPS bahwa produksi dalam negeri cukup dan masa panen masih berlangsung di banyak tempat. Badan Pusat Statistik menyebutkan produksi beras berdasarkan angka ramalan (aram) II naik 2,4 persen.

Dalam hal ini seharusnya Bulog lebih agresif menyerap gabah dari petani. Selain itu akses harus dibuka luas untuk petani guna menjual gabahnya langsung kepada Bulog tanpa perantara. Ini perlu dilakukan, mengingat serapan Bulog masih rendah di banyak Divisi Regional (Divre), sampai dengan pertengahan Juli masih sekitar 20 persen. Seperti Jawa Timur yang menjadi salah satu lumbung beras nasional, Bulog yang ditargetkan menyerap 1.150.000 ton pada 2011. Hingga memasuki bulan Juli ini serapan di Jawa Timur hanya mencapai 23 persen. Bahkan, ironisnya ditengarai Bulog malah tidak mau membeli gabah petani, karena alasan gudangnya penuh.

Sekali lagi ini merupakan bukti bahwa pemerintah tidak berpihak kepada petani dalam negeri. Sebagai catatan saat ini panen petani masih berlangsung sampai bulan Agustus dan memasuki masa tanam September. Sementara masa paceklik diperkirakan akan masuk pada Oktober, November dan Desember, namun itu bisa diantisipasi jika serapan Bulog optimal.

Jika BPS dan Kementerian Pertanian sudah meyakinkan bahwa panen berjalan optimal dan produksi beras naik, lalu atas alasan apa Bulog ngotot mengimpor beras dari Vietnam ? Dalam hal ini seyogyanya pemerintah tidak terburu-buru melakukan impor beras. Petani sebenarnya memiliki cadangan gabah namun tidak dijual, karena harga gabah standar Perum Bulog masih rendah. Oleh karena itu, pemerintah jangan tergesa-gesa melakukan impor beras, supaya petani dapat merasakan kesejahteraan maka pemerintah hendaknya meningkatkan atau menaikkan harga gabah atau beras di pasar.

Dalam hal ini pemerintah harus menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah, dengan harapan petani akan menjual gabah dan beras mereka. HPP harus dinaikkan lagi supaya harga beli gabah oleh Bulog dapat bersaing dengan harga gabah di pasar yang sangat tinggi.

Barangkali alasan bahwa secara kualitas beras impor lebih bagus dan murah dibandingkan dengan beras yang dibeli Bulog dari petani, itu ada benarnya. Tetapi jangan lupa, kalau pemerintah memiliki kewajiban untuk membeli gabah dan beras petani sesuai dengan harga pasar. Bulog harus diberikan kewenangan untuk membeli gabah dan beras petani dengan harga di atas HPP, sehingga petani mau menjual berasnya. Dengan demikian jerih payah petani bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka (petani-red). Sehingga ke depan petani lebih bergairah lagi menanam padi dan pada akhirnya target swasembada pangan bisa terwujud. (ini)

Filed under: Uncategorized, ,

Harga Beras Naik Bukan Karena Kurang Stok

minggu 31 juli 2011

http://www.jpnn.com/read/2011/07/31/99422/Harga-Beras-Naik-Bukan-Karena-Stok-

JAKARTA – Stok beras menghadapi bulan puasa dan lebaran dipastikan tidak ada masalah. Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menegaskan, jika saat ini ada tren terjadi kenaikan harga beras, hal itu bukan berkaitan dengan stok yang ada.

“Itu bisa terjadi dipicu faktor psikologis karena dianggap rutinititas Ramadan, sepertinya harus naik,” ujar Suswono usai mengikuti pagelaran wayang orang di Istana Negara, Jumat malam.

Selain itu, kenaikan harga juga bisa dipengaruhi penimbunan yang dipengaruhi pemberitaan bahwa masyarakat seolah sulit mendapatkan beras. “Tapi, sebenarnya kan ada stok,” katanya.

Dia lantas mencontohkan tidak adanya orang yang antre untuk mendapatkan beras. Itu berbeda dengan antrean saat orang membeli BBM karena memang terjadi kelangkaan atau kurangnya suplai. Kalau pun terjadi kenaikan harga, pemerintah memiliki kebijakan untuk segera melakukan operasi pasar.

Suswono menyebutkan, suplai tidak kurang dari 2.500 hingga 3.000 ton perhari dari Pasar Induk Cipinang. “Pasar Induk Cipinang itu sebagai barometer dan suplai ada terus. Itu menunjukkan suplai tidak terganggu,” kata mantan wakil ketua Komisi IV DPR yang salah satunya membidangi masalah pertanian dan peternakan.

Meski stok mencukupi, tidak lantas berartu pemerintah tak akan mengimpor beras. “Soal impor, itu hal yang berbeda. Bulog cukup nggak stoknya untuk akhir tahun? Diwajibkan minimal stok 1,5 juta ton,” kata Suswono.

Saat ini, lanjut dia, stok itu masih 1,4 juta ton. Nah, dengan masa panen yang terjadi saat ini, menurut Suswono, Bulog bisa menyerap dari produksi dalam negeri. “Kalau itu optimal, stok banyak. Jadi, kalau perlu impor, disesuaikan dengan stok yang ada,” tutur pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, itu.

Dia mengatakan, puncak panen raya akan terjadi pada Agustus nanti. Suswono juga akan mengikuti panen itu di beberapa daerah. “Sekali lagi, impor ini untuk menjaga stok Bulog hingga akhir tahun 1,5 juta ton plus cadangan beras pemerintah,” kata Suswono.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan instruksi untuk menjaga harga sejumlah bahan kebutuhan pokok. Itu seiring dengan cenderung naiknya harga pangan dan minyak dunia. Salah satunya dengan melakukan operasi pasar jika diperlukan. (fal/ttg)

Filed under: Uncategorized,

Pedagang Pastikan Harga Beras Bakal Naik Kembali

27 Juli 2011, 13:03:59| Laporan J. Totok Sumarno

http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=f33e184bce3fedb374eb5fa0797e2707201195440

suarasurabaya.net| Meski masih beberapa hari lagi, Rabu (27/7/2011) sejumlah pedagang beras dibeberapa pasar tradisional Kota Surabaya memastikan harga beras bakal naik. Dan kenaikan berlangsungsampai memasuki Ramadhan.

Sudarno koordinator paguyuban pedagang beras pasar beras Bendul Merisi Surabaya, membenarkan hal itu ketika ditanya suarasurabaya.net, Rabu (27/7/2011) terkait kenaikan harga beras saat Ramadhan.

“Harga pasti naik. Dan nanti setelah masuk Ramadhan beberapa hari harga beras juga akan naik kembali. Itu setiap tahun terjadi dan memang kondisi pasar mengharuskan itu,” kata Sudarno.

Kenaikan harga beras, lanjut Sudarno memang tidak banyak, dikisaran 200 sampai dengan300 rupiah per kilogram. Tetapi jika kemudian terjadi beberapa kali kenaikan sampai menjelang Idul Fitri nanti, tentunya bisa jadi persoalan tersendiri.

“Kalau kenaikan harganya memang tidak terlalu besar. Hanya dikisaran 300 rupiah per kilogram. Tapi kalau beberapa kali terjadi kenaikan, tentunya akan memberatkan juga,” ujar Sudarno.

Dalam Minggu terakhir bulan Juli 2011 ini saja, lanjut Sudarno harga beras, sudah dua kali mengalami kenaikan harga. “Kami berani memastikan kenaikan harga beras akan terjadi beberapa kali lagi, sampai Idul Fitri,” tambah Sudarno saat berbincang dengan suarasurabaya.net dikiosnya, Rabu (27/7/2011).

Ditemui ditempat berbeda, Mashuri, 56 tahun, pedagang beras di pasar Soponyono, Rungkut pada suarasurabaya.net, juga meyakinkan bahwa setidaknya bakal terjadi dua sampai tiga kali kenaikan harga beras sampai mendekati Lebaran atau Idul Fitri tahun ini.

“Pasti naik kembali. Dan kenaikan itu terjadi sampai mendekati Idul Fitri. Biasanya saat menjelang Idul fitri, masyarakat butuh beras untuk zakat, dan itu bisa dipastikan harganya bakal naik lagi,” papar Mashuri dikiosnya, Rabu (278/7/2011).(tok)

Filed under: Uncategorized,

Pedagang Pastikan Harga Beras Bakal Naik Kembali

27 Juli 2011, 13:03:59| Laporan J. Totok Sumarno

http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=f33e184bce3fedb374eb5fa0797e2707201195440

suarasurabaya.net| Meski masih beberapa hari lagi, Rabu (27/7/2011) sejumlah pedagang beras dibeberapa pasar tradisional Kota Surabaya memastikan harga beras bakal naik. Dan kenaikan berlangsungsampai memasuki Ramadhan.

Sudarno koordinator paguyuban pedagang beras pasar beras Bendul Merisi Surabaya, membenarkan hal itu ketika ditanya suarasurabaya.net, Rabu (27/7/2011) terkait kenaikan harga beras saat Ramadhan.

“Harga pasti naik. Dan nanti setelah masuk Ramadhan beberapa hari harga beras juga akan naik kembali. Itu setiap tahun terjadi dan memang kondisi pasar mengharuskan itu,” kata Sudarno.

Kenaikan harga beras, lanjut Sudarno memang tidak banyak, dikisaran 200 sampai dengan300 rupiah per kilogram. Tetapi jika kemudian terjadi beberapa kali kenaikan sampai menjelang Idul Fitri nanti, tentunya bisa jadi persoalan tersendiri.

“Kalau kenaikan harganya memang tidak terlalu besar. Hanya dikisaran 300 rupiah per kilogram. Tapi kalau beberapa kali terjadi kenaikan, tentunya akan memberatkan juga,” ujar Sudarno.

Dalam Minggu terakhir bulan Juli 2011 ini saja, lanjut Sudarno harga beras, sudah dua kali mengalami kenaikan harga. “Kami berani memastikan kenaikan harga beras akan terjadi beberapa kali lagi, sampai Idul Fitri,” tambah Sudarno saat berbincang dengan suarasurabaya.net dikiosnya, Rabu (27/7/2011).

Ditemui ditempat berbeda, Mashuri, 56 tahun, pedagang beras di pasar Soponyono, Rungkut pada suarasurabaya.net, juga meyakinkan bahwa setidaknya bakal terjadi dua sampai tiga kali kenaikan harga beras sampai mendekati Lebaran atau Idul Fitri tahun ini.

“Pasti naik kembali. Dan kenaikan itu terjadi sampai mendekati Idul Fitri. Biasanya saat menjelang Idul fitri, masyarakat butuh beras untuk zakat, dan itu bisa dipastikan harganya bakal naik lagi,” papar Mashuri dikiosnya, Rabu (278/7/2011).(tok)

Filed under: Uncategorized,

Sebagian Pedagang Stop Suplai Beras ke Jakarta

Selasa, 26 Juli 2011

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/07/26/245251/289/101/Sebagian-Pedagang-Setop-Suplai-Beras-ke-Jakarta

PURWOKERTO–MICOM: Sulitnya memperoleh beras membuat sebagian pedagang di Banyumas, Jawa Tengah, menghentikan pasokan bahan pangan itu ke Jakarta. Bahkan, penyerapan beras oleh Bulog Subdivisi Regional IV Banyumas mandek.

Salah seorang pedagang beras di Banyumas, Imam, mengungkapkan sepekan terakhir ia sudah tidak lagi memasok beras ke Jakarta karena beras sulit diperoleh. Padahal pekan lalu masih bisa memasok 50 ton. “Pekan ini saya tidak lagi memasok beras ke Jakarta. Pasokan terakhir saya lakukan pekan lalu sebanyak 50 ton,” katanya, Selasa (26/7).

Pedagang lainnya, Eko Purwanto, mengatakan pasokan ke Jakarta berkurang sebanyak 50% dari biasanya. “Dalam kondisi normal, saya memasok ke Jakarta dan Jawa Timur rata-rata 100 ton tiap hari. Namun, sejak beberapa waktu terakhir hanya mampu menyuplai pasar Jakarta
dan Jawa Timur sebanyak 50 ton,” ujarnya.

Menurutnya, masalah utama berkurangnya pasokan beras adalah sulitnya mencari gabah dari para petani. “Di Banyumas misalnya, panen hanya terjadi di beberapa titik. Itu pun hasilnya tidak maksimal, dan kebanyakan petani menyimpan hasil panen mereka. Untuk memeroleh gabah, saya harus mencari ke luar Banyumas seperti Cilacap,” tambahnya.

Secara terpisah, Manajer Koperasi Unit Desa (KUD) Patikraja Faturrahman menyatakan selain minimnya pedagang yang memasok beras ke Jakarta, kontrak dengan Bulog Banyumas juga dihentikan sementara. “Kami tidak lagi meneken kontrak pengadaan pangan, karena harga di pasaran jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga pembelian pemerintah,” kata Faturrahman. (LD/OL-01)

Filed under: Uncategorized

Impor Beras, Politik Beras atau Beras Politik?

Jumat, 22/07/2011 07:59 WIB

http://www.detiknews.com/read/2011/07/22/075939/1686683/103/impor-beras-politik-beras-atau-beras-politik

Jakarta – Kabar menyakitkan petani kembali dibuat oleh elite negeri ini. Kebijakan impor beras yang akan dilakukan Bulog melukai hati petani yan telah berjuang membuat negeri ini surplus beras sejak tahun 2008. Fakta ilmiah sudah dikeluarkan oleh BPS, meski konsumsi capai 33,5 juta ton, RI masih surplus beras 2,4 persen. Inilah bukti bahwa petani benar-benar pahlawan pangan yang seharusnya mendapatkan tanda jasa setiap tahun.

BPS pada tanggal 1 maret 2011 memperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan bertambah sekitar 3,8 juta jiwa menjadi 241,1 juta jiwa. Penambahan penduduk tersebut akan meningkatkan kebutuhan konsumsi beras per kapita per tahun menjadi 139,15 kilogram, sehingga total kebutuhan beras nasional diproyeksi mencapai 33,5 juta ton.

Walaupun pertumbuhan padi diyakini hanya 1,35%, namun masih akan terjadi surplus beras pada akhir tahun sebanyak 4,29 juta ton. Namun kondisi ini memang itu tidak menjamin persediaan beras setiap bulannya mencukupi kebutuhan sehingga perlu manajemen perberasan nasional yang baik. selama Januari-April surplus beras akan terjadi, meski impor belum dilakukan. Namun, mulai Mei hingga Juli terkadang terjadi defisit beras. Oleh karenanya manajemen stok beras menjadi sangat penting untuk mengendalikan harga beras selama 2011.

Inilah faktanya bahwa beras bukan tidak ada atau kurang, namun pertanyaannya kenapa Bulog ngotot impor beras? Beras ini untuk siapa? Sehingga mengalahkan nasib 25 juta keluarga petani yang telah bersimbah ‘darah’ menghasilkan beras untuk pejabat sampai rakyat jelata di nusantara ini? Bukannya ucapan terima kasih namun sebaliknya ‘membunuh’ petani secara perlahan-lahan dengan impor beras. Pengalaman India membuktikan petani bunuh diri massal karena frustasi oleh kondisi harga pangan yang jatuh setelah pemerintah membuat kebijakan impor beras yang mencekik hasil penen mereka. Jangan sampai terjadi di negeri kita.

Ekonomi Perberasan Nasional

Agus Saifullah (2001) menyatakan bahwa campur tangan pemerintah dalam ekonomi perberasan antara lain dilakukan melalui lembaga pangan yang bertugas melaksanakan kebijakan pemerintah di bidang perberasan baik yang menyangkut aspek pra produksi, proses produksi, serta pasca produksi. Salah satu lembaga pangan yang diberi tugas pemerintah untuk menangani masalah pasca produksi, khususnya dalam bidang harga, pemasaran dan distribusi adalah Badan Urusan Logistik (Bulog).

Tugas yang diberikan kepada Bulog merupakan implementasi kebijakan harga seperti yang diusulkan Affif dan Mears tahun 1969 yang meliputi pertama menyangga harga dasar yang cukup tinggi untuk merangsang produksi, kedua perlindungan harga maksimum yang menjamin harga yang layak bagi konsumen, ketiga perbedaan harga yang layak antara harga dasar dengan harga maksimum agar merangsang perdagangan, keempat hubungan harga yang wajar antara harga domestik dengan harga internasional (Mears, 1982).

Untuk mencapai tujuan di atas, paket instrumen kebijakan yang ditempuh adalah pertama menetapkan harga dasar, kedua melakukan pembelian gabah/beras hasil produksi pada masa panen, ketiga memberikan tambahan gaji dalam bentuk beras kepada PNS dan TNI/Polri, keempat melakukan operasi pasar dengan menambah pasokan beras ke pasar umum pada saat paceklik dan di daerah defisit, kelima mengisolasi pasar beras domestik dari pengaruh pasar beras dunia melalui monopoli impor beras hanya oleh Bulog, keenam mendistribusikan beras ke berbagai daerah dan menetapkan harga jual beras yang berbeda antar daerah untuk merangsang perdagangan swasta.

Kedaulatan Pangan Nasional

Melihat masalah dan teori kebijakan perberasan nasional memang sangat timpang. Tujuan pokok adanya Bulog adalah untuk memberikan jaminan akan lahirnya kedaulatan pangan berbasis produksi pangan nasional, namun sebaliknya Bulog menjadikan impor beras sebagai andalan utama saat menghadi kondisi surplus beras petani. Jika kita mencari alasan impor pasti mudah, menyediakan stok pangan nasional, tidak ada alasan ilmiah yang mendukung kebijakan impor ini.

Buktinya produksi padi nasional 2011 menurut BPS sebanyak 65.152.748,33 ton gabah setara dengan 43.394.282 beras, jika kebutuhan per orang/gram/hari setara 45 gram maka kebutuhan nasional 2011 dengan asusmsi pertumbuhan penduduk 2% maka kebutuhan pangan kita 236, 6 Juta penduduk maka beras yang dimakan rakyat Indonesia sekitar 38.005.200 ton, artinya masih sisa sekitar 4,9 juta ton beras. Ketersedian ini belum ditambah dengan makanan non beras yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal. Dari sisi ini kita berani mengatakan bahwa syarat ketersedian pangan cukup, tidak memerlukan tambahan pangan yang sejenis seperti beras.

Kondisi ini dicapai oleh petani Indonesia yang secara dukungan politik masih jauh dari harapan. Negara maju seperti Jepang, mensubsidi petaninya secara besar-besaran dengan bea masuk yang sangat tinggi sehingga harga beras di Jepang bertahan pada tingkat 500 yen (sekitar Rp 32 ribu per kg). Harga ini sepuluh kali lipat dibanding harga internasional. Negara-negara maju seperti AS, Kanada, Uni Eropa yang paling bersemangat meneriakkan pasar bebas ternyata melakukan rintangan cukup besar terhadap barang-barang pertanian yang masuk negaranya. Mereka menghadangnya dengan berbagai peraturan dan bea masuk.

Sebaliknya Indonesia yang tergabung dalam G8 sebagai negera agraris tidak berani menerapkan bea masuk impor beras, bahkan cenderung ‘menikmati’ adanya kebijakan ini sebagai satu–satunya cara menjaga cadangan pangan nasional. Kegagalan Bulog dalam menyerap beras dan gabah petani berakibat penderitaan petani nasional. Konteks kedaulatan pangan saat ini hanya dipahami oleh Bulog sebagai ketersedian pangan saja, padahal ada akses pangan dan kualitas pangan yang penting diperhatikan.

Beras Politik

Kebijakan impor beras ini syarat akan muatan bisnis dan kepentingan politik yang mengabaikan nasib rakyat kecil, khususnya petani. Indikasinya pertama bahwa stok pangan cukup sampai akhir tahun. Impor beras ini jelas hanya untuk mengejar keuntungan bagi pengusaha ‘hitam’ yang tidak mengerti nasib petani. Kedua, amburadulnya kinerja Bulog ditutupi dengan pangan cukup dari impor. Logikanya jika kinerja jelek maka Bulog harusnya tahu diri dan memperbaiki diri melalui penyerapan gabah petani, bukan menguntungkan petani luar negeri. Revitalisasi Bulog menjadi pilihan tepat melihat kinerjanya selama ini.

Ketiga, isu kenaikan inflasi yang ditakutkan oleh pemerintah hanyalah strategi untuk memutuskan impor beras. Justru dengan impor beras ini maka harga beras petani dalam negeri akan anjlok dan membuat makro ekonomi di lokal menjadi lesu. Petani akhirnya membeli beras dengan harga tinggi, karena spekulan beras menyimpan beras sampai menunggu kenaikan harga. Kondisi diatas menguatkan bahwa beras sebagai alat politik yang sering salahgunakan untuk melahirkan kemiskinan berikutnya.

Akhirnya kita hanya melihat drama beras politik ini sebagai skenario negara maju untuk terus menjadikan negara Indonesia sebagai ‘sampah’ besar bagi produk pangan dan telanjangnya kebobrokan manajemen pangan nasional yang membawa korban petani dan rakyat miskin di pedesaan.

*) Riyono adalah pengamat kebijakan pertanian dan kelautan, Sekjen DPP Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (DPP PPNSI).

Filed under: Uncategorized,

Harga Beras Melambung, Pemerintah Geber Operasi Pasar

Senin, 25 Juli 2011 | 17:00 WIB

http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/07/25/brk,20110725-348254,id.html

TEMPO Interaktif, Jakarta – Melambungnya harga beras belakangan ini membuat pemerintah harus bekerja ekstra keras. Setelah melakukan operasi pasar di Jakarta, Tangerang, dan Jawa Timur, mereka kini menyiapkan operasi pasar di Jawa Tengah. Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Gunaryo, harga beras di provinsi tersebut mengalami kenaikan yang tinggi dan cepat.

“Pemerintah ingin menahan atau bahkan menurunkan harga beras,” katanya di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin, 25 Juli 2011.

Harga beras nasional selama Juli hingga akhir pekan lalu terus naik mencapai Rp 7.286 per kilogram. Harga itu naik 2,14 persen dibandingkan bulan lalu. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kenaikan harga beras di beberapa kota di Pulau Jawa sudah tinggi dan berlangsung cepat.

Pekan lalu, operasi pasar digelar di Surabaya, Jawa Timur, karena harga sudah naik sekitar 10 persen sejak Juni. Sehingga harga Beras di Surabaya mencapai Rp 7.829 per kilogram.

Di Semarang, harga beras sudah naik hingga 7 persen. Sementara itu, di Yogyakarta, harga beras sudah naik 10 persen sejak Juni.

Lebih lanjut, Gunaryo mengatakan bahwa pemerintah juga akan menggelar pasar murah untuk meringankan beban masyarakat kurang mampu. Harga beberapa bahan kebutuhan pokok juga ikut beringsut naik. Minyak goreng, misalnya, harganya naik tipis 0,39 persen menjadi Rp 10.573 per kilogram. Harga daging ayam juga sudah mencapai Rp 26.136 per kilogram. Harga itu lebih tinggi 5 persen dari harga bulan sebelumnya. Adapun harga telur ayam mencapai Rp 18.098 per kilogram. Kenaikan harga telur ayam mencapai 9,89 persen dibandingkan bulan lalu.

“Pasar murah akan digelar di Jakarta besok,” kata dia. Selain itu, pasar rakyat juga akan dilakukan di Pekanbaru, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Aceh. Pada pasar murah, dijual komoditas beras, minyak goreng, dan bahkan ada produk tekstil.

Menurut Gunaryo, pemerintah daerah juga siap memberi subsidi kegiatan pasar murah agar bahan pokok bisa dijual dengan harga lebih rendah. “Salah satunya Jawa Timur, mereka komitmen selama 20 hari puasa, harga bahan pokok sama dengan harga grosir,” kata dia.

Filed under: Uncategorized,

HARGA PANGAN – Berantas Pungli, Benahi Jalur Distribusi

Selasa, 26 Juli 2011

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=283592

JAKARTA (Suara Karya): Lonjakan harga bahan pangan menjelang Ramadhan sekarang ini, di samping karena faktor spekulan, juga dipicu oleh ekonomi biaya tinggi dalam kegiatan distribusi.

Jalur distribusi yang semrawut atau bahkan dilanda macet parah, plus praktik pungli di lapangan yang kian marak, membuat ongkos angkut barang–termasuk bahan pangan–sangat tinggi.

Karena itu, pemerintah mestinya bertindak memberantas pungli serta membenahi jalur distribusi barang menjadi lancar dan efisien. Dengan itu, ruang bagi tindakan spekulasi di lapangan dipersempit sehingga harga bahan pangan menjelang Ramadhan ini tidak melonjak.

Demikian penilaian Managing Director Econit Advisory Group Hendri Saparini di Jakarta kemarin. Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengakui, lonjakan harga kebutuhan pokok niscaya memengaruhi inflasi pada Juli 2011. Dia juga memperkirakan, harga kebutuhan pokok pangan masih terus naik hingga Agustus 2011.

Menurut Hendri Saparini, oknum pedagang/distributor bahan pangan memanfaatkan momentum Ramadhan untuk menangguk keuntungan besar. Permintaan yang melonjak membuat mereka leluasa mendikte harga. Tapi kenaikan harga kebutuhan pokok pangan ini juga turut didorong oleh biaya ekstra yang kian tinggi dalam proses distribusi.

“Biaya ekstra membesar akibat jalur distribusi semrawut dan sarat kemacetan. Di samping itu, pungli di lapangan juga makin menjadi menjelang Ramadhan ini,” kata Saparini.

Menurut dia, selama ini pemerintah hanya menggunakan laporan di atas kertas dalam mengatasi masalah kenaikan harga pangan menjelang momen besar keagamaan seperti Ramadhan kali ini. Pemerintah, katanya, terkesan tidak berani mengatasi akar masalah berupa ekonomi biaya tinggi dalam proses produksi maupun kegiatan distribusi barang.

“Pemerintah cuma tanya pengusaha, bagaimana pasokan pangan? Kalau ditambah impor, apakah cukup? Pemerintah juga bertanya kepada industri di dalam negeri ihwal produksi. Saat mereka menjawab cukup, pemerintah menganggap tugasnya selesai,” tutur Saparini.

Dia menekankan, pemerintah tidak memikirkan bagaimana barang bisa sampai ke masyarakat secara cepat dan efisien sehingga masyarakat bisa memperoleh barang dengan harga terjangkau.

Saparini menyebutkan, pemerintah harus bisa memastikan proses produksi hingga kegiatan distribusi benar-benar efisien. Dengan demikian, masyarakat niscaya bisa mudah mendapatkan barang dengan harga terjangkau pula.

“Kalau mereka punya uang, tapi barang tidak ada, kan sama saja bohong,” ujar Saparini. Dia melihat, lonjakan harga belum tentu karena ketiadaan stok, melainkan apakah barang bisa sampai ke masyarakat atau tidak. Kalau pun sampai, apakan proses distribusi lancar serta tak dibebani biaya ekstra.

Untuk itu, menurut Saparini, pemerintah jangan menjadikan kenaikan harga kebutuhan pokok pangan sebagai masalah remeh. Pemerintah, katanya, harus bersikap tegas kepada pelaku usaha sekaligus harus memastikan bahwa akses mudah bagi masyarakat dalam memperoleh barang dengan harga terjangkau.

“Kalau berlindung pada alasan bahwa kenaikan harga karena tradisi masyarakat yang menyebabkan permintaan naik, maka masalah ini tidak akan pernah selesai. Konsumsi masyarakat saat Ramadhan maupun Lebaran memang cenderung berlebihan. Namun, itu justru harus diantisipasi agar lonjakan harga bisa dihindari,” ujar Saparini.

Sementara itu, Rusman Heriawan menyatakan, beberapa komoditas pangan yang mencatat lonjakan harga adalah beras, daging, telur ayam, bawang merah, juga gula pasir. Dia menyebutkan, kenaikan harga barang-barang tersebut tergolong sangat tinggi.

Rusman berharap, hingga akhir Juli ini laju inflasi tidak melampaui 1 persen. Namun, dia memastikan, laju inflasi selama Juli-Agustus 2011 hampir pasti tinggi. Apalagi inflasi Agustus, karena menjelang Lebaran biasanya harga bahan pokok pangan meningkat drastis karena didorong lonjakan permintaan.

“Inflasi tahunan masih tinggi, yakni 1,69 persen. Kalau inflasi Juli di bawah 1 persen, maka secara keseluruhan inflasi tahunan di bawah 5,54 persen. Yang paling kita khawatirkan bukan saja inflasi Juli, tapi juga inflasi Agustus,” ujar Rusman.

Di tempat terpisah, meski kenaikan harga beras sebesar atau 11 persen dari Rp 6.900 menjadi Rp 7.500 per kg, Pemprov Jateng merasa belum perlu melakukan operasi pasar (OP). Mereka berkeyakinan, stok beras di gudang Bulog masih mencukupi hingga Desember 2011.

“OP beras justru perlu dilakukan di Pasar Induk Cipinang Jakarta, Pasar Kramat Jati Jakarta, dan Pasar Tanah Tinggi Tangerang. Ini supaya beras di Jateng bisa tetap stabil,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Ihwan Sudrajat.

Menurut dia, 14 persen atau sekitar 63.000 ton kebutuhan beras di Jakarta saat ini dipasok Jateng. Jadi, OP beras di Jakarta niscaya jauh lebih efektif ketimbang di Jateng. Apabila stok beras di Jakarta sudah cukup, maka otomatis beras dari Jateng tidak bakal tersedot sehingga stok di daerah itu aman.

Ihwan menambahkan, guna menekan kenaikan harga pangan selama Ramadhan dan Lebaran, pemerintah diharapkan menertibkan praktik pungli dalam kegiatan distribusi bahan pokok. Bagaimanapun banyaknya pungli membengkakkan biaya distribusi sehingga harga barang pun terdongkrak.

Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta memperluas pelaksanaan OP beras, terigu, dan minyak goreng menjelang Ramadhan ini hingga ke pasar-pasar tradisional dan permukiman di lima wilayah.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menjelaskan, pemerintah terus berupaya menjamin kelancaran distribusi dan ketersediaan bahan pokok pangan dengan harga terjangkau. Untuk itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Perum Bulog Divre DKI Jakarta menyangkut kegiatan pasar murah dan OP beras.

“Kita juga akan lakukan inspeksi mendadak ke pasar-pasar dan gudang pengumpul. Dengan begitu, kita berharap pasokan barang stabil dan spekulasi yang mengganggu stabilitas harga pun berkurang,” kata Fauzi. (Bayu/Pudyo/Yon/Andrian)

Filed under: Uncategorized,

Di Mandailing Natal Harga Beras Melambung Akibat Aksi Timbun Gabah

Senin, 25 Juli 2011 15:46 wib

http://economy.okezone.com/read/2011/07/25/320/484043/harga-beras-melambung-akibat-aksi-timbun-gabah

MANDAILING NATAL – Berbagai faktor menyebabkan harga beras semakin tidak terjangkau masyarakat kecil. Di Mandailing Natal, Sumatera Utara pada pemilik kilang padi sengaja menimbun gabah petani menanti lonjakan harga menjelang puasa dan Lebaran guna memperoleh keuntungan.

Meski bulan ini sejumlah wilayah di Mandailing Natal, Sumatera Utara memasuki masa panen raya, namun ternyata tidak serta merta mampu menekan harga beras di pasaran.

Dari hasil penelusuran di lapangan, Senin (25/7/2011), ditemukan ada cara yang tidak lazim terjadi di tingkat pengepul gabah. Gabah para petani ini sengaja ditahan dan baru akan disalurkan ke pasaran jika harga beras sudah mencapai angka tertinggi. Tujuannya tak lain adalah mencari keuntungan besar.

Permainan seperti ini sebesarnya sudah lama diendus pihak badan ketahanan pangan Mandailing Natal. Bahkan kepala badan ketahanan pangan Mandailing Natal Bahren, menyebutkan bahwa wilayahnya saat ini sedang surplus beras sebanyak 47 ribu ton. Dengan perhitungan rata-rata hasil beras Mandailing Natal yang mencapai 117 ribu ton per tahun sementara tingkat konsumsi masyarakat hanya 70 ribu ton setiap tahunnya.

Namun, hal ini disangkal pemilik penggilingan gabag. Menurut Ernawati, salah satu penggilingan Gabah di Mandailing Natal menyebutkan harga gabah sebenarnya sudah sangat tinggi dari para petani. Erna menambahkan hampir setiap hari harga gabah naik. Dalam seminggu ini saja harga gabah sudah naik dua kali.

Erna menahan gabah yang sudah dibelinya dari para petani semata-mata karena tak mau merugi. Menurutnya, fluktuatif harga yang terjadi hampir setiap hari menyebabkan para pengepul gabah takut mengalami kerugian yang lebih besar.

Perseoalan pangan seperti beras yang merupakan bahan makanan pokok masyarakat di negeri ini memang menjadi persoalan pelik dan tak luput dari saling tuding antara pemerintah, petani hingga pihak pengepul.

Sudah sepantasnya dinas terkait memahami persoalan para petani mulai dari kebutuhan petani itu sendiri hingga sistem pemasaran hasil panen. (and)
(Ahmad Husein Lubis/Global/ade)

Filed under: Uncategorized,

Gabah Kian Sulit Dicari, Harga Beras Makin Melambung

Penulis : Liliek Dharmawan
Senin, 25 Juli 2011 20:12 WIB

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/07/25/244972/289/101/Gabah-Kian-Sulit-Dicari-Harga-Beras-Makin-Melambung

PURWOKERTO–MICOM: Gabah semakin sulit dicari di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, karena petani memilih menyimpan hasil panen. Apalagi masa panen tidak serempak dan hasilnya kurang bagus.

Akibat kelangkaan gabah, pasokan ke pasaran sangat minim dan membuat harga beras di kian melambung. Di tingkat penggilingan saja beras jenis IR 64 telah mencapai Rp7.000 per kilogram (kg), sedangkan di tingkat pengecer Rp7.700 hingga Rp7.800 per kg.

“Harga beras semakin sulit dijangkau karena hampir tiap hari mengalami kenaikan. Saat ini saya menjual beras IR 64 dengan harga Rp7.700 per kg, bahkan sudah ada yang menjual Rp7.800 per kg. Kenaikan harga ini dipicu oleh semakin minimnya pasokan beras di tingkat penggilingan,” kata Rahmi, 41, pedagang beras eceran di Kelurahan Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto
Utara, Banyumas, Jawa Tengah, Senin (25/7).

Petani di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Sarwono, 46, menambahkan bahwa hasil panen kurang bagus karena tanaman padi diserang berbagai macam hama, antraa lain wereng. “Saya memiliki 0,25 hektare (ha), hasilnya hanya sekitar 750 kg. Padahal biasanya bisa mencapai 1,5 ton kalau bagus. Dari hasil tersebut, 500 kg di antaranya saya simpan karena akan memasuki puasa dan Lebaran sebagai persediaan,” ungkapnya.

Sementara itu, Manajer Koperasi Unit Desa (KUD) Patikraja Faturrahman juga mengakui saat ini gabah semakin sulit dicari. Menurutnya, ada sejumlah daerah di Banyumas yang panen, tetapi petani umumnya menyimpan hasil panen itu untuk kebutuhan sendiri. (LD/OL-01)

Filed under: Uncategorized,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.